Langit sore itu tampak muram. Awan bergelayut berat seperti memikul rahasia panjang tentang manusia. Lalu hujan turun perlahan, kemudian deras, menyentuh gunung, sawah, jalanan, hingga tanah-tanah yang selama ini retak karena kemarau. Tidak semua tanah menyambut hujan dengan cara yang sama. Ada tanah yang meneguknya dengan penuh syukur, menyimpannya diam-diam di kedalaman, lalu melahirkan rumput hijau dan bunga-bunga liar yang menenangkan mata. Namun ada pula tanah yang keras seperti hati yang terlalu lama memelihara kesombongan; air hanya singgah sebentar sebelum pergi tanpa jejak.

Begitulah ilmu dan petunjuk turun ke dunia manusia. Ia seperti hujan dari langit yang tidak pernah memilih kepada siapa ia akan jatuh. Ia mendatangi rumah orang miskin maupun istana para pembesar. Ia mengetuk hati para pencari kebenaran sekaligus menyentuh dada orang-orang yang merasa dirinya telah paling benar. Tetapi manusia, sebagaimana tanah, memiliki tabiat yang berbeda-beda. Ada yang lembut menerima nasihat, ada yang sekadar menyimpan tanpa menghidupkan, dan ada yang bahkan membiarkan semuanya mengalir sia-sia.

Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi sawah, hiduplah seorang lelaki tua yang sifatnya seperti tanah subur, yang setiap malam duduk di serambi masjid membawa kitab lusuh di pangkuannya. Wajahnya tidak terkenal, suaranya tidak pernah masuk televisi, tetapi anak-anak kecil selalu duduk melingkar mendengarnya berbicara. Ia cerdas mengumpulkan ilmu dan menyerapnya setelah itu mengajarkan ilmu dengan cara sederhana: menenangkan orang yang marah, mengingatkan orang yang sombong, dan memeluk mereka yang putus asa. Kata-katanya tidak tinggi, tetapi tumbuh di hati banyak orang seperti benih yang menemukan musim hujannya.

Sementara itu, di sudut lain kehidupan, ada orang-orang yang mengumpulkan ilmu seperti tanah datar yang tidak mampu meresap air namun mampu menampung air. Walau tidak cerdas dia mau belajar, ia belajar seperti ibnu hajar al atsqalani yang saat dia berjalan menemui batu yang tertetes air kemudian memiliki keyakinan ilmu akan masuk walau dalam waktu yang lama, dan akhirnya dia bermanfaat untuk orang banyak.

Yang paling menyedihkan bukanlah orang bodoh yang ingin belajar, melainkan mereka yang menolak hujan sama sekali. Hati mereka seperti padang tandus yang datar dan mati. Nasihat datang, lalu hilang. Kebaikan lewat, lalu lenyap. Mereka tidak marah ketika mendengar kebenaran, tetapi juga tidak peduli. Dan ketidakpedulian sering kali lebih mengerikan daripada kebencian. Sebab kebencian masih menyimpan api, sementara hati yang mati tidak lagi memiliki apa pun selain kehampaan.

Betapa banyak manusia hari ini hidup di tengah derasnya hujan ilmu, tetapi tetap kering di dalam dirinya. Mereka mendengar ceramah setiap hari, membaca kutipan bijak di mana-mana, namun tetap mudah menghina, mudah memfitnah, mudah merasa paling suci. Lidah mereka basah oleh ayat, tetapi hati mereka kering dari kasih sayang. Mereka lupa bahwa tanda ilmu bukan sekadar banyak bicara, melainkan berubahnya akhlak menjadi lebih lembut kepada sesama.

Namun hujan tidak pernah bersalah ketika tanah gagal menumbuhkan kehidupan. Hujan tetap turun dengan setia, sebagaimana petunjuk Allah terus datang kepada manusia dalam berbagai bentuk. Kadang melalui guru sederhana, kadang melalui penderitaan, kadang melalui kehilangan yang mematahkan kesombongan. Ada orang yang baru mengerti arti cahaya setelah hidupnya gelap. Ada yang baru memahami makna syukur setelah lama menangis dalam kekurangan.

Dan anehnya, hati manusia sering baru menjadi subur setelah dihancurkan oleh luka. Kesedihan kadang bekerja seperti bajak yang membelah tanah keras agar air bisa masuk lebih dalam. Orang yang pernah jatuh sering lebih mudah memahami penderitaan orang lain. Sebaliknya, mereka yang terlalu lama dipuji sering tumbuh menjadi tanah batu yang menolak apa pun selain suara dirinya sendiri. Maka jangan heran bila ada orang sederhana yang lebih bercahaya daripada mereka yang merasa dirinya paling berilmu.

Pada akhirnya, dunia hanyalah musim panjang tempat hujan turun berkali-kali. Setiap manusia sedang diuji: menjadi tanah subur, menjadi penampung air, atau menjadi tanah mati yang membiarkan segalanya hilang tanpa makna. Sebab nilai manusia bukan diukur dari seberapa banyak ilmu yang masuk ke kepalanya, tetapi seberapa banyak kehidupan yang tumbuh dari ilmunya. Ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang hanyalah kebisingan yang melelahkan.

Maka ketika hujan berikutnya turun ke dalam hidupmu—entah berupa nasihat, ilmu, ujian, atau teguran—lihatlah dirimu baik-baik. Apakah hatimu akan menjadi tanah yang melahirkan kehidupan? Ataukah hanya genangan yang dipuji karena penuh, padahal tak pernah menumbuhkan apa-apa? Atau lebih buruk lagi, menjadi padang tandus yang bahkan tidak sanggup menyimpan setetes cahaya? Sebab pada akhirnya, bukan hujan yang menentukan nasib tanah, melainkan bagaimana tanah itu membuka dirinya kepada langit.

Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin

Sumber Renungan:

  1. Shahih al-Bukhari Hadits No. 77
  2. Shahih Muslim Hadits No. 4232
  3. Musnad Ahmad Hadits No. 18752