Awalnya banyak orang mengira masalah itu seolah olah lahir dari kekhawatiran yang tulus. Namun jika anda belajar psikologis, kalian mengetahui bahwa ternyata berasal dari masalahnya dia sendiri. Semakin lama cerita itu dibuka lembar demi lembarnya, semakin tampak bahwa persoalannya bukan berada pada emotikon tersebut, melainkan luka yang belum selesai dibereskan di ruang pribadi atau rumah tangganya sendiri.
Ternyata di balik keberatan yang disuarakan itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih rumit bin ruwet. Ada percakapan dengan rekan kerja yang membuat rumah tangga menjadi gaduh. Ada kepercayaan yang retak karena batas-batas yang semestinya dijaga justru diabaikan. Ada pertanyaan dari pasangan yang tidak kunjung menemukan jawaban memuaskan. Dan seperti hujan yang tertahan terlalu lama di awan gelap, kekecewaan itu akhirnya mencari tempat lain untuk jatuh.
Sayangnya, seseorang tersebut memilih menimpakan kesalahan seperti kasusnya dia sendiri dan bukan memilih ruang introspeksi. Bukan pula keberanian untuk mengakui kesalahan sendiri. Yang terjadi justru sebaliknya. Kesalahan pribadi perlahan dipindahkan ke ruang publik. Emosi yang lahir dari persoalan rumah tangga berubah menjadi kecurigaan terhadap hal-hal yang sebenarnya biasa, atau bahkan diapun pernah melakukannya. Emotikon menjadi kambing hitam yang mudah disalahkan, karena mengakui kesalahan diri sendiri jauh lebih berat daripada menunjuk kesalahan orang lain.
Di sinilah manusia sering terjebak. Ketika hati sedang terluka, penglihatan menjadi kabur. Kita tidak lagi melihat sesuatu sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana perasaan kita sedang bekerja. Yang netral terlihat mencurigakan. Yang biasa tampak berbahaya. Yang tidak bersalah pun dapat berubah menjadi sasaran hanya karena kebetulan berada di depan mata saat emosi sedang mencari pelampiasan.
Padahal mengingatkan seseorang adalah pekerjaan mulia. Ia membutuhkan keberanian, kejujuran, dan ketulusan. Namun kemuliaan itu akan kehilangan nilainya ketika dibangun di atas prasangka dan rujukan yang tidak lengkap. Sebuah teguran tanpa data yang lengkap ibarat hakim yang menjatuhkan vonis sebelum sidang dimulai. Ia mungkin terdengar seperti benar, tetapi sesungguhnya sedang mengkhianati keadilan itu sendiri.
Bayangkan jika setiap orang membawa masalah pribadinya ke ruang sosial. Betapa berisiknya dunia ini. Setiap senyum akan dicurigai. Setiap kata akan dicari celanya. Setiap simbol akan ditafsirkan sesuai luka masing-masing. Tidak akan ada lagi ruang untuk saling memahami dan bijak, karena semua orang sibuk menjadikan pengalaman pribadinya sebagai ukuran kebenaran bagi orang lain. Tapi itulah dunia, kalau tidak seperti itu nanti kurang ramai pintu sinisme.
Namun kehidupan selalu menyimpan pelajaran yang halus. Orang-orang sadar bahwa persoalan ini tidak pernah tentang emotikon. Yang dipersoalkan hanyalah bayangan dari masalah yang belum selesai didalam pribadinya. Dan ketika fakta-fakta mulai berdiri di tempatnya, tuduhan itu kehilangan gaungnya. Sebab kebenaran memiliki sifat yang unik: ia tidak perlu berteriak untuk didengar. Ia cukup hadir, dan kebisingan akan runtuh dengan sendirinya.
Dari peristiwa kecil itu, ada satu pelajaran besar yang layak disimpan. Sebelum menegur orang lain, pastikan kita membawa data yang utuh, bukti yang valid, dan niat yang bersih. Jangan sampai mengingatkan berubah menjadi pelarian dari kesalahan diri sendiri. Sebab teguran yang lahir dari amarah pribadi hanya akan melahirkan luka baru, sementara teguran yang lahir dari kebenaran akan menjadi cahaya bagi semua pihak, dan orang lain pasti akan menerimanya tanpa harus dipaksa mengangguk dan menuruti kemauannya apalagi memaksa orang untuk sepakat dan menyuruhnya untuk mengucapkan “terimakasih sudah diingatkan”
Pada akhirnya, bukan emotikon yang perlu diadili. Bukan pula orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang masalah yang sedang terjadi. Yang perlu diperiksa adalah kejujuran dalam diri kita sendiri. Sebab sering kali perkara terbesar dalam hidup bukanlah apa yang dilakukan orang lain, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa sumber masalah sesungguhnya sedang bercermin di hadapan kita sendiri.
Salam dan Jabat Erat —Didin Jamidin—
Sumber Refleksi:
Surah Al-Hujurat ayat 6; Surat As-Shaff Ayat 2
Tidak ada komentar
Posting Komentar